HIERARKI PENGUNAAN
JALAN DI INDONESIA
Hayoo sudah tahukah kamu hierarki saat menggunakan
jalan ???
Berdasarkan UU No. 22/2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 134 UU tersebut menjelaskan
pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai urutan
pemadam kebakaran; ambulans; kendaraan pertolongan kecelakaan; kendaraan
pimpinan lembaga negara; kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing atau tamu
negara; pengantar jenazah; konvoi untuk kepentingan tertentu menurut
pertimbangan petugas kepolisian.
Nasib pejalan kaki, pengendara
sepeda onthel, dan angkutan umum menjadi elemen terpisah yang
terpinggirkan dalam regulasi lalu lintas dan angkutan jalan. Hal ini tentu
berlawanan dengan prinsip transportasi berkelanjutan yang mengedepankan udara
bersih, minimnya kecelakaan, dan rendahnya tingkat kemacetan.
Dalam prinsip transportasi
berkelanjutan hierarki pengguna jalan justru mendahulukan pejalan kaki,
pengendara sepeda onthel, dan angkutan umum baru kemudian kendaraan
darurat seperti pemadam kebakaran, ambulans, dan lainnya. Kendaraan pribadi
menempati prioritas terakhir.
Jika prinsip ini dapat
ditanamkan dalam tiap diri pengemudi, tentunya egoisme dan kesewenang-wenangan
pengemudi kendaraan bermotor pribadi dapat berkurang. Daffa, Alfini, dan jutaan
pejalan kaki maupun pengendara sepeda onthel lainnya dapat menikmati fasilitas
jalan dengan hak yang sama. Semoga ini tidak sekadar berandai-andai.
Begitu pula dengan pesepeda Tanpa
perlu menunjukkan data empiris, kita bisa melihat bagaimana jalan raya di
Indonesia dibangun tanpa menyertakan fasilitas lajur sepeda. Bagi pesepeda,
menemukan lajur sepeda seperti menemukan oase di tengah padang tandus. Memang
ada beberapa kota yang telah menyediakan lajur sepeda, tapi panjangnya mungkin
kurang dari 1% dari total panjang jalan raya yang ada.
Terlebih lagi kalaupun telah ada
lajur sepeda, pesepeda masih harus mengalah karena ruang lajur sepeda ini
sering diokupasi oleh kendaraan bermotor baik untuk melintas maupun untuk
digunakan sebagai area parkir.
Soal ini saya melihat sendiri
buktinya di depan mata. Kemarin siang saya melihat beberapa anak sekolah harus
rela bersepeda di trotoar, karena jalanan yang telah penuh sesak dengan motor
dan mobil. Pastinya mereka menghadapi sedikit dilema. Bersepeda di jalan,
mungkin mereka takut terserempet mobil atau motor, sementara memilih bersepeda
di trotoar yaa siap-siap saja dikomplain dengan pejalan kaki yang pastinya
terganggu.
Sumber gambar : Liputan6

Komentar
Posting Komentar