Langsung ke konten utama

DEFINISI KOMUNIKASI



DEFINISI KOMUNIKASI

Secara terminologis komunikasi menunjuk pada proses penyampaian suatu pesan (message) atau pernyataan (statement) oleh seseorang kepada orang lain. Ruben dan Steward (1998) mendefinisikan komunikasi manusia (human communication):
is the process through which individuals --in relationships, group, organizations and societies-- respond to and create messages to adapt to the environment and one another.


Harold Lasswell : The Structure and Function of Communication in Society: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? Pemikiran Lasswell ini menunjukkan bahwa komunikasi meliputi 5 unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yaitu:
Komunikator (siapa yang mengatakan?)
Pesan (mengatakan apa?)
Media (melalui saluran/ channel/media apa?)
Komunikan (kepada siapa?)
Efek (dengan dampak/efek apa?).
Jadi Lasswell menyatakan proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu.


Pawito dan Sardjono (1994) :
          komunikasi sebagai suatu proses dengan mana suatu pesan dipindahkan (lewat suatu saluran) dari suatu sumber kepada penerima dengan maksud mengubah perilaku, perubahan dalam pengetahuan, sikap dan atau perilaku lainnya. Sekurang-kurangnya didapati 4 (empat) unsur utama dalam model komunikasi yaitu sumber (the source), pesan (the message), saluran (the channel) dan penerima (the receiver).
  

Wilbur Schramm : komunikasi sebagai suatu proses berbagi (sharing process):
Berkomunikasi, sebenarnya sedang berusaha menumbuhkan suatu kebersamaan (commonnes) dengan seseorang, berusaha berbagai informasi, ide atau sikap.
Schramm mengarah pada sejauhmana keefektifan proses berbagi antarpelaku komunikasi. komunikasi yang efektif menurutnya adalah komunikasi yang berhasil melahirkan kebersamaan (commonness), kesepahaman antara sumber (source) dengan penerima (audience)-nya. Suatu komunikasi akan benar-benar efektif apabila audience menerima pesan, pengertian dan lain-lain persis sama seperti apa yang dikehendaki oleh penyampai


Smith:
Komunikasi antarmanusia merupakan suatu rangkaian proses yang halus dan sederhana … dengan berbagai unsur-sinyal, sandi, arti … dapat menggunakan beratus-ratus alat yang berbeda, baik kata maupun isyarat … baik berupa percakapan pribadi maupun melalui media massa  dengan audience … ketika manusia berinteraksi saat itulah mereka berkomunikasi… saat orang mengawasi orang lain, mereka melakukan melalui komunikasi” (Blake dan Haroldsen, 2003 : 2-3).
         Larry A Samovar, Richard E Porter dan Nemi C Janin dalam bukunya Understanding Intercultural Communication:
Communication is defined as a two way on going, berhaviour affecting process in which one person (a source) intentionally encodes and transmits a message throught a channel to an intended audience (receiver) in order to induce a particular attitude or behaviour (Purwasito, 2003 : 198).


Charles Horton Cooley : komunikasi itu merupakan mekanisme yang menyebabkan adanya hubungan antar manusia, yang memungkinkan manusia berkembang dengan simbol-simbol pikiran bersama-sama dengan alat-alat untuk meneruskannya dalam ruang dan menyimpannya dalam dimensi waktu (Kincaid D. Lawrence & Schram, Wilbur, 1977: 50).
Senada dengan Cooley adalah pandangan sosiolog terkenal bernama Joseph S. Roucek and Roland L. Warren dalam bukunya “Socioplogy And Introduction” :
Communication is the process of transmitting fact, beliefs, attitudes, emotional reactions, or any other content of awareness between human beings” (Roucek & Warren, 1963 : 279).
 Jadi, dalam perspektif Sosiologi Komunikasi,  komunikasi itu tidak hanya sekedar berisi informasi, melainkan juga meliputi ungkapan-ungkapan perasaan yang pada umumnya dialami umat manusia. William Albig dalam bukunya Public Opinion :
“Communication is the process of transmitting meaningfull symbols between individuals”

 
Nimmo :
Komunikasi adalah proses interaksi sosial yang digunakan orang untuk menyusun makna yang merupakan citra mereka mengenai dunia (yang berdasarkan itu mereka bertindak) dan untuk bertukar citra itu melalui simbol-simbol (Nimmo,1993 : 6).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIRA (Hazard Identification Risk Assessment) ZONA SELAMAT SEKOLAH Di SMP N 1 SLAWI DAN MTS 1 SLAWI

HIRA (Hazard Identification Risk Assessment) ZONA SELAMAT SEKOLAH Di SMP N 1 SLAWI DAN MTS 1 SLAWI ž   LATAR BELAKANG                                                   PELAJAR adalah kelompok rentan pengguna jalan. Mereka belum dapat merespon bahaya secara cepat dan tepat. Hal ini dikarenakan kecerdasannya belum sepenuhnya berkembang. Karenanya mereka adalah kelompok yang harus dimengerti dan dibantu. Sayangnya pengguna jalan lain tidak responsif terhadap keadaan ini. Ada kecenderungan pengemudi kendaraan bermotor tidak mau memberi hak jalan ( to yield ) kepada pejalan kaki yang jelas-jelas dalam situasi mempunyai hak jalan dan pengemudi mempunyai cukup waktu untuk berhenti.       ...

HIERARKI PENGUNAAN JALAN DI INDONESIA

HIERARKI PENGUNAAN JALAN DI INDONESIA Hayoo sudah tahukah kamu hierarki saat menggunakan jalan ??? Berdasarkan UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 134 UU tersebut menjelaskan pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai urutan pemadam kebakaran; ambulans; kendaraan pertolongan kecelakaan; kendaraan pimpinan lembaga negara; kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing atau tamu negara; pengantar jenazah; konvoi untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas kepolisian. Nasib pejalan kaki, pengendara sepeda onthel , dan angkutan umum menjadi elemen terpisah yang terpinggirkan dalam regulasi lalu lintas dan angkutan jalan. Hal ini tentu berlawanan dengan prinsip transportasi berkelanjutan yang mengedepankan udara bersih, minimnya kecelakaan, dan rendahnya tingkat kemacetan. Dalam prinsip transportasi berkelanjutan hierarki pengguna jalan justru mendahulukan pejalan kaki, pengendara sepeda onthel , dan angku...